Oleh: Arifin | 30 November, 2007

Sebab Aku Cinta Sebab Aku Angin


by : Helvy Tiana Rosa
Malam mengelam. Mendekap Batu Merah dengan segala kegalauan. Gerimis turun menyapa sunyi. Mengencerkan ceceran darah, di sepanjang jalan. Mengusir asap kepedihan yang mengepul, dari bangunan yang telah menjadi arang.

Kupandangi nona di hadapanku sekali lagi. Wajah hitam manisnya menyembul dari balik jendela kayu yang terbuka. Ia tampak lusuh. Jilbabnya kumal berdebu, compang -camping dan terkena percikan darah di sana-sini. Meski lelah, wajah keras itu tak juga berubah. Beku. Kaku. Sebilah tombak ada dalam genggamannya. Senjata itu dijulurkannya ke luar jendela, lalu berkali-kali dihunjamkannya ke tanah.

“Cinta, menangislah,”kataku dengan suara risau mendesau.

Perempuan itu menatap puing-puing bangunan masjid, di seberang kami. Lama sekali.”Beta seng bisa manangis,”suaranya bergetar, rahangnya mengeras.

Tetapi aku sangat ingin, bisikku. Tubuhku berguncang, bergetar. Berputar. Semakin lama semakin kencang. Meliuk-liuk..

Cinta! Cinta! Sungguh, aku melihat semua!

“Karudung ini bagus sekali, Bu. Pantas untuk beta pakai menghadap Allah di hari raya,”dari jendela kayu yang terbuka, kulihat nona tersenyum, menampakkan lesung pipitnya yang dalam.

Mamanya tertawa, menggantungkan sesisir pisang meja di sisi lemari kayu. “Ya, Nak. Itu rezeki dariNya. Bapakmu juga membelikan Ali dan Abid songkok baru.”

“Selesai salat, Jangan lekas pulang. Apalagi Bapak yang mengisi khutbah Ied,”suara Bapak bangga.

“Iya! Iya!”

“Wah, bagia ini enak sekali!”kata Ali dan Abid berbarengan. Kedua bocah itu mengerling nakal, lalu mencomot sepotong dua potong bagia, yang akan dimasukkan ke dalam toples.

Semua tertawa. Bahagia.

Keesokan harinya, 19 Januari 1999. Pagi-pagi sekali, kulihat Nona dan keluarganya, juga kaum muslimin yang lain berduyun duyun ke tanah lapang. Gema takbir terdengar di mana-mana. Dengan khusyu mereka melakukan salat Ied.lalu..

Entah dari mana, ratusan mahluk menyeramkan menyerang mereka yang tengah melaksanakan salat! Ada yang membawa tombak, kalewang, panah, parang, pisau juga pistol! Jeritan memilukan terdengar di mana-mana! Oto dan rumah di sekitar juga kena sasaran.

“Serang!”

“Bunuh!”

“Bakar!”

Hiruk pikuk. Semua berlari menyelamatkan diri. Banyak jamaah yang terinjak-injak. Ratapan, tangisan, jeritan semakin memerihkan pagi! Para lelaki berpeci, mencoba melawan tanpa senjata. Api berkobar. Orang-orang terkapar. Menggelepar. Seperti ikan-ikan yang terlempar dari air kehidupan. Darah muncrat, mengalir, lalu membentuk beberapa kubangan. Pekat.

“Nak, tolooong!”

“Mamaaaa!”

DUG!

Perempuan itu tersungkur di pangkuan anaknya, dengan kepala remuk terkena lemparan batu.

“Aliii!”

“Abiid!”

“Aaaaaaaaaa!”

Tangan-tangan kotor mengayun-ayunkan bocah itu dan melemparnya ke dalam bangunan yang terbakar.

Nona terbelalak! Ternganga! Lenso putih di tangannya jatuh ke tanah.

“Bapaaaaak!”

CRESH!

Kepala lelaki separuh baya itu putus dari badannya! Menggelinding di tanah lapang yang basah meresap darah.

Nona terpaku. Tak bergerak. Hanya tubuhnya yang terdorong ke sana ke mari, didesak mereka yang panik menyelamatkan diri.

Nona masih kaku. Merasa tubuhnya tertanam dalam tanah, saat palu raksasa menghantamnya berkali-kali. Jiwanya bagai mengelupas. Tetapi tak ada setetes pun air mata. Aku hanya mendengar gema isakan dalam relung-relung batinnya. Kulihat dadanya naik turun. Detak jantungnya terdengar berkejaran. Ia berteriak sekuat tenaga! Menyebut nama Allah berkali-kali.
Aku melihat semua! Juga ketika tangan-tangan jahanam itu menyeretnya. Mendorong. Memeluk,melecehkannya bergantian. Mereka menarik-narik jilbabnya sambil tertawa tanpa henti. Lalu merobeknya kasar dengan belati! Nona mencoba meloloskan diri. Ia menggigit, mencakar, menendang, meludahi monster-monster itu! Hup, ia bahkan berhasil merampas sebuah tombak! Ya, meski tangannya berdarah terkena ujung tombak yang tajam. Lalu dengan sisa-sisa tenaga ia berlari. Jatuh bangun. Tersengal-sengal. Kadang tersandung tubuh-tubuh manusia yang terbongkar, di tengah jalan..

Siapa mahluk-mahluk buas dengan mata dan ikat kepala merah itu? Lalu yang memakai ikat kepala ungu? Mereka seakan baru saja menenggak berbotol-botol sopi dan sagure. Mereka membawa panah api! Di mana polisi? Di mana tentara? Aku mendesau risau.

Hening. Bulan sepotong di langit. Bintang tiada.

“Cinta., Nona…,” sapaku pelan.

Wajah itu kaku. Dingin.

“Nona harus pi,” kutiup wajah manisnya. “Ose harus mengungsi. Orang-orang pergi ke pelabuhan. Mereka memakai arumbai atau kole-kole untuk keluar dari sini.”

“Seng!”tegas Cinta tiba-tiba. “Beta tak akan pernah pergi!” Wajahnya terangkat beberapa senti.

Aku tersentak. Oh, Cintaku. Ia sangat berani. Tetapi.apakah ia tak menyadari?

Lawannya bukan manusia, tetapi monster! Mereka tak punya nurani. Monster-monster ini serupa dengan mereka yang membantai kaum muslimin Bosnia, Palestina, Kashmir, Kosovo, Myanmar, Azerbaijan, Chechnya, Aljazair dan yang lainnya!

Lalu siapa yang akan membelamu, Cinta? Apakah orang-orang yang selalu berteriak-teriak mengatasnamakan HAM di muka bumi ini akan tergetar pada deritamu? Akankah mereka mendengar jeritan menyayat dari tanah yang tercabik-cabik ini? Ah, mereka akan terus tidur, Cinta. Mereka punya banyak urusan. Juga uang dari negeri antah berantah. Terkadang mereka berteman erat dengan monster-monster itu.

“Kini milikku hanya Allah dan tanah ini. Beta harus bajuang demi kebenaran!”

Aku meliuk perih. Terhempas-hempas.

Cinta., Cinta.

Aku ingat. Beberapa waktu lalu, ia pergi ke Masjid Raya Al Fatah, masjid besar di kota ini. Menyaksikan sendiri tumpukan lara. Puluhan ribu pengungsi yang rumahnya terbakar berjejalan di sana. Kebanyakan mereka perempuan, anak-anak dan lansia. Mereka kelaparan, kehausan dan terkena berbagai penyakit. Erangan dan tangisan di sana bagai air mendidih dalam jerangan.

Cinta tak mampu lagi tersedu. Ia membentangkan kedua tangannya memeluk para balita. Menghibur mereka. Ia bercerita tentang Rasulullah saw dan para sahabatnya pada anak-anak itu, hingga walau sesaat mereka lupa akan lapar. Ia membantu memasak bubur, menumbuk sagu. Menegarkan para wanita, mengobati yang terluka. Juga mengasah bambu runcing.

“Biar katong membela diri!” serunya garang, ketika seorang tentara melarang mereka bertindak. Padahal saat itu mereka diserang membabi buta. “Beta tak mengerti. Mengapa kalian membiarkan monster-monster itu? Mengapa katong tak boleh mempertahankan nyawa sendiri? Di mana keadilan?”teriak Cinta.

Orang-orang di sekitar masjid memandangnya dengan mata basah dan sukma tercabik.

“Siapa nona pemberani itu?” Mereka berbisik-bisik.

“Puteri Haji Latusina. Satu-satunya yang tersisa dari keluarga itu!” sahut yang lain.

Bulan sepotong di langit. Bintang tiada.

Kupandang lagi nona. Lalu sayup, kudengar lagi irama langkahnya, saat memasuki gerbang sebuah rumah sakit, beberapa hari yang lalu.

Saat itu ia mengantar seorang perempuan jamaah masjid yang akan melahirkan. Baru saja perempuan itu terbaring di atas ranjang putih, entah dari mana datangnya, para monster itu telah menyerbu rumah sakit! Panik! Semua porak poranda. Bangunan putih tersebut dalam sesaat penuh cipratan darah. Tangisan, teriakan histeris memecah udara! Ibu-ibu hamil itu memekik, kala dianiaya secara paling biadab, sebelum dibunuh. Begitu juga penghuni rumah sakit yang diketahui muslim.
“Buka jilbabmu sebelum mereka melihatnya!” kata seorang perawat. “Jangan bilang ose muslimah!”

Cinta menatapnya dengan pandangan menyala. “Tidak. Beta muslimah, sejak beta dilahirkan hingga kembali padaNya!” seru Cinta dengan suara dan tubuh bergetar.

Pada detik terakhir sebelum bangunan itu dihancurkan, tertatih-tatih, Cinta membawa beberapa muslimah, menjauhi rumah sakit. Bersembunyi di rumah kosong, tak jauh dari sana. Peluh dan darah mengucur deras dari dahinya.

Nona, nona.

Setiap kali kupandang mata jelinya yang kini bengkak dan sayu, kutemukan lima ratus mayat lebih terbujur kaku di sana. Kujumpai kepedihan Pelauw, Sirisori, Tulehu, Kate-kate dan Kampung Kolang. Kusaksikan nyeri menebari Kuda Mati, Wailela, Kampung Labuhan Raja, Air Laew, Karang Tagepe.. Lebih dari satu setengah bulan, sejak hari raya berdarah itu. Tak ada apa pun, kecuali rejam kekejian yang menggila. Bahkan 2 Maret lalu, para jamaah yang sedang salat subuh di Masjid Al Huda, kembali dibantai, tanpa sempat membela diri.

Kini bulan hampir habis di langit. Bintang tiada. Dari jauh terdengar bunyi tiang listrik dipukul berkali-kali.

Tiba-tiba Cinta bangkit dari duduknya.

“Mereka menyerang lagi!”teriak Cinta. “Monster-monster itu telah kembali!” Kegeraman seakan membungkus keberanian gadis itu berlapis-lapis. “Allahu ma’i! Allahu ma’ii!”katanya berkali-kali.

Cinta mengangkat tombaknya. Menutup jendela yang engselnya hampir terlepas itu. Ia bergegas ke kamar mandi. Perlahan sekali kudengar guyuran air. Aku tahu, gadis itu pasti sedang membersihkan dirinya. Di daerah ini, sejak masa Pattimura, bila akan berjihad, mereka selalu mandi dan mengenakan pakaian putih.

Suara tiang listrik yang dipukul, terdengar lagi. Semakin keras. Cinta bergegas ke luar rumah. Aku yakin, ia akan pergi ke masjid itu. Bergabung dengan yang lain. Sekali lagi ditatapnya rumah kenangan yang sebagian telah hancur diterjang bom rakitan. “Selamat tinggal,” lirihnya.

Sementara itu suara gemuruh para monster terdengar semakin dekat. Mereka berteriak-teriak kasar. Berjalan sambil mengacung-acungkan senjata! Mencorat-coret tembok rumah yang masih berdiri tegak dengan segala hujatan, atau menghancurkannya!

Cinta berlari. Membawa tombak di tangannya. Juga salawaku yang telah ditempanya beberapa hari lalu.

Tiba-tiba, belum jauh ia berlari, di hadapannya tampak puluhan monster menyeringai. Mereka membawa berbagai senjata di tangan. Mengerikan. Kian lama mereka semakin banyak. Mereka datang dari berbagai arah. Tampaknya sebagian besar bukan berasal dari daerah itu! Mata mereka merah! Jalan mereka terhuyung-huyung! Mereka mengenakan ikat kepala yang sama seperti dahulu. Merah dan ungu!

“Hua.ha.ha.,”mereka tertawa-tawa. Lalu dari mulut mereka ke luar berbagai makian. Terkadang monster-monster itu tanpa malu memanggil-manggil Tete Manis.

Cinta terkepung.

“Allaaaaahu Akbar!” teriak Cinta. “Allaaaaahu Akbarrr!” ulangnya berkali-kali. Aku dapat merasakan dadanya menggelegak. Nyaris pecah.

Para pengecut itu menyerang Cinta! Mengamuk! Mereka bakalai! Nona manise sempat terjatuh dan diinjak-injak!

Biadab! Marahku menjalar.

Tiba-tiba aku mendengar sebuah panggilan. Suara itu! Tubuhku bergetar hebat. Menggigil ngilu. Itu adalah Panggilan Agung yang menggetarkan segenap alam.

Cinta! Kulihat ia berdiri, mengayun-ayunkan tombaknya ke sana kemari. Nona terdesak.

Sekuat tenaga aku meliuk-liuk di udara. Meniup sekuat-kuatnya. Aku berputar-putar. Terus berputar-putar. Memanas. Mengganas! Sekonyong-konyong monster-monster itu berpentalan.
Aku tak sudi membiarkan mereka begitu saja. Aku bertiup lagi. Memekik-mekik. Kali ini kuangkat tubuh Cinta. Nona melayang-layang di udara.

“Lihat! Dia terbang! Dia terbang!”

Orang-orang berikat kepala ungu memanah Cinta dengan panah api. Kutiup anak panah itu, hingga kembali kepada si pemanah. Mereka masih memanah tanpa henti. Aku meliuk-liuk. Menggemuruh. Panah-panah itu mengejar mereka. Mereka berteriak-teriak histeris. Ketakutan. Semua lintang pukang! Aku menurunkan Cinta dengan lembut. Nona masih memejamkan mata.

Sepi. Tak ada suara apa pun. Hanya desiranku.

“Beta cinta Allah dan RasulNya. Juga tanah ini,” bisik Nona.

Aku mengangguk. Aku tahu. Karena itu aku selalu memanggilmu Cinta, kataku sendiri.

“Allahu Akbar. Engkau telah mengirimkan tentaramu,” katanya lagi. “Benar Ustad Abdul Aziz, kala bercerita Kau mengirimkan ribuan malaikat, saat masjid raya diserang.”

Aku kembali melihat lesung pipit itu di tempatnya. Ah, setelah sekian lama.

“Dan kini Kau kirim tentaramu yang lain,” sambung gadis itu. “Angin..”

Aku bertiup pelan. Lembut. Semilir.

Nona menengadah ke langit. Jilbabnya berkibar. Matanya basah. Darah masih mengucur deras dari kedua lengan dan kakinya.

Dari balik kota yang sekarat, mentari merambat naik pelan-pelan. Menyapa kusu-kusu yang membisu di tepi jalan.

Ya, monster-monster itu mungkin akan kembali. Tetapi tak ada yang sudi pergi dari tanah ini. Tak akan, sampai kapan pun. Sebab Cinta, sebab angin dan semua, akan bangkit menghadapi. Demi Allah!

***

Daftar Istilah :

beta: aku seng: tidak nona: gadis kalewang: parang panjang pisang meja: pisang Ambon ose: kamu katong: kami arumbai: perahu/kapal besar kole-kole: perahu kecil bajuang: berjuang bagia: kue sagu kering oto: mobil tete manis: tuhan (non muslim) pi: pergi lenso: saputangan manangis: menangis sopi, sagure: minuman keras salawaku: tameng bakalai: berkelahi kusu-kusu: alang-alang


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: