Oleh: Arifin | 5 Desember, 2007

Penemu Blue Energy Warga Nganjuk


JAWA POS Jumat, 30 Nov 2007 
Penemu Blue Energy Warga Nganjuk
Berbahan Dasar Air, Dipamerkan dalam Konferensi PBB

NGANJUK- Tak banyak yang tahu,
penemu bahan bakar blue energy yang sedang dikampanyekan Presiden
Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) ternyata berasal dari Nganjuk. Dia
adalah Joko Suprapto, warga Desa Ngadiboyo, Kecamatan Rejoso.

Kemarin, tim uji coba kendaraan berbahan bakar tersebut mengunjunginya.
Mereka dipimpin staf khusus Presiden SBY,
Heru Lelono. Rombongan itu dalam perjalanan dari Cikeas, Bogor menuju
Nusa Dua, Bali, tempat digelarnya United Nation Framework Conference on
Climate Change (UNFCCC) 2007.

“Luar biasa. Ini mobil Mazda Six punya Patwal Mabes (Polri) yang bisa
berkecepatan 240 kilometer per jam ini kami coba lari 180 kilometer per
jam tanpa ada persoalan. Jadi, moga-moga apa yang kita uji coba ini
benar-benar bermanfaat. Insya Allah,” ujar Heru begitu turun dari Ford
Ranger B 9648 TJ.

Untuk diketahui, pertemuan kemarin berlangsung di salah satu hotel di
Nganjuk. Rombongan Heru tiba sekitar pukul 09.00. Mereka mengendarai
lima unit kendaraan untuk menguji bahan bakar berbahan dasar air
tersebut. Yakni, dua pikap double cabin Ford Ranger, satu sedan Mazda 6,
satu bus, dan satu truk pengangkut blue energy.

Sebelumnya, rombongan dilepas oleh Presiden SBY, Minggu lalu, dari
kediaman pribadinya di Cikeas, Bogor. Rencananya, blue energy itu juga
akan dipamerkan kepada dunia dalam UNCFCCC atau Konferensi Kerangka
Kerja PBB tentang Perubahan Iklim di Nusa Dua, Bali .

“Kita ingin membuktikan kepada dunia internasional bahwa kita bukan
bangsa kere yang terombang-ambing harga minyak dunia. Bangsa Indonesia
bisa menemukan (bahan bakar, Red) sendiri,” tandas Heru bangga.

Kepada puluhan wartawan yang sejak pagi menunggu kedatangan rombongan,
Heru mengungkapkan bahwa bahan bakar hasil penelitian belasan tahun Joko
itu sangat irit. “Sekitar satu lima belas (1 liter dibanding 15
kilometer, Red). Tadi kami mencatat, untuk menempuh 374,5 kilometer,
hanya butuh 25 liter,” tutur staf khusus Presiden bidang otonomi daerah
itu.

Selain hemat dan mampu meningkatkan performa kendaraan, lanjut Heru,
keunggulan bahan bakar tersebut adalah rendahnya emisi karbon yang
dihasilkan. Ini sesuai dengan pesan UNFCCC yang digelar 3-14 Desember
mendatang.

“Sudah dicoba sendiri oleh Bapak Presiden. Beliau kemarin sempat duduk
di belakang knalpot bus ini sambil menciumi asapnya. Paspampres (pasukan
pengamanan presiden) sempat kerepotan takut Presiden karacunan, tapi
tidak. Coba saja,” tantangnya.

Penasaran, Wakil Bupati Nganjuk Djaelani Ishaq yang kemarin ikut
menyambut kedatangan rombongan langsung mencoba mencium asap dari
moncong knalpot bus. “Sama sekali tidak ada baunya,” kata Djaelani
setelah berkali-kali setelah mengisap asap tersebut.

Ditemani Joko, Heru kemarin juga mengungkapkan bahwa untuk memakai blue
energy, mesin tidak perlu dimodifikasi. “Sama sekali tidak perlu ada
modifikasi apa-apa. Ini kami bawa mobil berlainan tahun, semua bisa
pakai,” tandasnya.

Bahkan, lanjut Heru, ada yang sebelumnya menggunakan solar dan di tengah
jalan langsung diganti 100 persen dengan blue energy. “Mobilnya malah
semakin tidak ada getaran,” lanjutnya bangga.

Sementara itu, Joko Suprapto yang selama ini terkesan misterius soal
kedekatannya dengan SBY, kemarin mulai blak-blakan. Terutama soal
aktivitasnya sebagai peneliti dan penemu blue energy. Dia bahkan sempat
sedikit membeber teknologi yang mulai ditelitinya sejak 2001.


Intinya adalah pemecahan molekul air menjadi H plus dan O2 min. Ada
katalis dan proses-proses sampai menjadi bahan bakar dengan rangkaian
karbon tertentu,” terang peneliti yang mengaku mengambil ide dari ayat2
Alquran itu.

Untuk mesin dengan bahan bakar premium, solar, premix, hingga avtur,
Joko mengaku telah menyiapkan bahan bakar pengganti sesuai dengan
mesinnya. “Tinggal mengatur jumlah rangkaian karbonnya. Mau untuk mesin
bensin, solar, sampai avtur ya sudah ada,” kata ayah enam anak itu.

Yang menarik,
bahan dasar air yang digunakan adalah air laut. “Kalau air tanah bisa
menyedot ribuan atau jutaan meter kubik. Kasihan masyarakat, paling
bagus nanti bahannya air laut,” terang pria yang selalu menyembunyikan
identitasnya, termasuk almamater tempatnya meraih gelar insinyur, itu.


Responses

  1. saya salut dan bangga,karena saya sendiri juga warga nganjuk..kalau saya boleh tahu apa bahan bakar tersebut bisa dipakai pada sepeda motor dan dimana saya bisa mendapatkannya?sekalian saya ingin belajar tentang bahan bakar tersebut.terima kasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: