Oleh: Arifin | 12 Maret, 2008

Kontroversi Film Ayat-ayat Cinta


Artikel ini saya peroleh dari www.eramuslim.com pada kolom tanya jawab Ustadz Ahmad Sarwat. Mungkin bisa menjadi bahan tambahan informasi seputar film ayat-ayat cinta.

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Setiap kali ada film yang mengangkat tema Islam atau dakwah, biasanya memang selalu diiringi dengan kontroversi di kalangan umat Islam sendiri.
Kontroversi itu bisa dilatar-belakangi karena cara pandang umat Islam memang berbeda-beda tentang hukum dan manfaat film untuk dakwah, namun terkadang ‘kesalahan’ memang terletak dari si pembuat film.
Untuk kasus kontroversi hukum film dalam pandangan agama ISlam, contoh kasusnya adalah film The Message karya Mustafa Aqqad. Perdebatan terjadi antara kalangan sufi dan bukan sufi. Kalangan ‘sufi’ (suka film) dari umat Islam memandang film ini bagus dan fenomenal dan layak dijadikan film dakwah yang ideal.
Sebaliknya, kalangan bukan ‘sufi’ yaitu kalangan ‘tifi’ alias anti film, karena sejak awal memang tidak suka film, tetap saja mereka tidak suka. Meski sudah sangat menggambarkan bagaimana hebatnya perjuangan umat Islam. Dan mereka tidak pernah kehabisan akal untuk mencacat sebuah film yang digelari film dakwah.
Dan itulah yang menyebabkan film The Message gagal shuting di Maroko lalu pindah ke Libya. Konon para ulama di negeri Maroko berdemo dan berfatwa bahwa haram hukumnya memfilmkan nabi Muhammad SAW dan para shahabatnya. Fatwa itu konon menyebar di dunia Islam, sehingga menurut cerita dari para pengamat film, penjualan film itu di Timur Tengah malah anjlok alias rugi.
Sebaliknya, di Barat tempat film itu diproduksi, konon cukup fenomenal baik dari segi penjualan dan juga penyebaran dakwah. Sosok Muhammad SAW yang selama ini dilecehkan, perlahan-lahan dapat dikembalikan dan ditempatkan sesuai posisinya.
Kesimpulan sederhananya, orang Arab (Timur Tengah) adalah anti film, jadi percuma berdakwah kepada mereka dengan menggunakan film. Belum apa-apa mereka sudah bikin fatwa sesat dan haram, tanpa pernah melihat filmnya. Pokoknya masuk bioskop saja sudah haram, biarpun filmnya dari awal hingga akhir isinya hanya kumpulan rekaman ceramah.
Mulai dari antri tiket, sampai urusan campur baur laki-laki dan perempuan di dalam ruang theater, sampai pemain filmnya ada yang perempuan dan seterusnya, semua akan dijadikan dasar keharaman sebuah film dan bioskop. Dan itu buat mereka adalah harga mati.


Kalangan Suka Film
Sebaliknya, buat umat Islam yang pada dasarnya sudah suka film, kecenderungan mereka selalu memandang positif bila ada film yang sedikit saja agak tidak terlalu hedonis. Bahkan meski sama sekali bukan film dakwah atau agama.
Film-film yang bersifat humanis, penegakan keadilan, atau yang berlatar belakang sejarah, cinta yang murni dan sejenisnya, mereka masukkan ke dalam daftar film layak tonton. Apalagi bila film itusudah bicara tentang agama Islam, atau pelajar Indonesia yang kuliah di Cairo, tentu buat mereka sudah lebih dari cukup layak untuk ditonton.
Dan hujjah mereka pun sudah sering kita dengar. Misalnya, mereka mengatakan bahwa yang perlu mendapat siraman dakwah itu bukan hanya jamaah masjid saja, tapi mereka yang tiap hari kerjanya nonton film, kalau dibuatkan film yang lain dari biasanya, akan tetap bermanfaat bagi mereka.
Setidaknya film yang agak kental mengangkat masalah agama seperti itu, untuk kapasitas dunia film yang selama ini melulu hedonis dan materialis, bahkan cenderung pornografis, makaharus ditanggapi positif, bukan malah dicela atau dimaki. Juga jangan dibilang lebih berbahaya dari film porno.
Buat mereka, cara pandang seperti ini adalah cara pandang pesimistis, bahkan cenderung nihilis. Tidak berpihak kepada realita bahwa sebagian besar masyarakat itu sufi, alias suka (nonton) film.
Mengharamkan film sama saja mengharamkan televisi. Tapi mereka yang mengharamkan televisi tetap saja tidak mendirikan sendiri sebuah stasiun televisi tandingan yang ideal sesuai dengan selera mereka. Jadi masih terbatas baru bisa mengharamkan, tanpa bisa memberikan solusi.
 

Kekurangan Pembuat Film
Pembuatan film bertema dakwah memang agak unik dan bikin pusing, apalagi kalau film itu dikerjakan oleh mereka yang kurang banyak berkecimpung di dunia dakwah.
Boleh jadi dakwahnya malah menjadi sekedar pemanis, atau orang bilang ‘manis-manis jambu’. Atau yang paling apes, dakwahnya malah kalah dengan masalah lainnya, seperti masalah cinta dan seterusnya. Film-film Rhoma Irama misalnya, seringkali terkotori dengan tema cinta agak vulgar, meski kemudian agak lebih dikoreksi.
Tapi di awal-awal produksinya, film-film itu malah menggambarkan pacaran, berduaan, berpelukan lain jenis yang bukan mahram, walau pun bintangnya fasih mengutip ayat-ayat Quran. Ini kan malah jadi kontradiksi dan sangat mengganggu, setidaknya buat mereka yang sudah punya wawasan agama lebih dalam.
Mungkin akan lain ceritanya kalau film itu digarap oleh tokoh sekelas Deddy Mizwar yang memang konsern terhadap dunia dakwah. Meski tidak sepi dari kritik, namun beberapa film besutan pak haji ini banyak yang memujinya.
 

Ayat ayat Cinta Tidak Islami?
Orang yang pernah baca novel karya Habiburrahman ini, lalu nonton filmnya, akan berkomentar bahwa film itu tidak Islami. Lho kok tidak Islami?
Wah, jangan tanya saya, tapi tanya saja kepada yang bilang ungkapan itu. Dan yang bilang begitu bukan siapa-siapa, tapi sutradaranya sendiri, si Hanung. Jadi sejak awal si sutradara sudah mengaku bahwa filmnya ini tidak Islami.
Jadi itu saja sudah cukup untuk dijadikan sebuah penilaian, tanpa harus diskusi panjang-panjang. Lha wong yang bikin film itu saja sudah bilang bahwa filmnya tidak Islami. Masak kita mau paksa bilang bahwa itu adalah film Islami?
Begitu banyak memang reduksi dari novel yang sarat isitlah syariah, ketika jadi film malah hilang begitu saja, dibuang oleh pembuat film. Sehingga begitu banyak pesan agama malah raib, berganti dengan adegan konyol, aneh dan memang tidak Islami. Dan itu sejak awal sudah diakui oleh si pembuat film.
Kami tidak tahu apa reaksi akhinal fadhil Habiburrahman tentang film ini. Silahkan tanya beliau.Tapi memang sangat beda antara apa yang ditulis oleh seorang lulusan Al-Azhar dalam novelnya dengan hasil besutan orang film yang bukan lulusan fakultas syariah. Nuansa dan touch-nya beda banget.
Terlambat Tayang Karena Dianggap Mempengaruhi Keimanan Agama Lain
Yang menarik dari berita tentang kenapa film ini terlambat ditayangkan, konon ada ganjalan di LSF. Lembaga ini mengatakan bahwa film ini dikhawatirkan akan mempengaruhi keyakinan agama lain, karena ada tokohnya yang beragama kristen tapi suka dengan Al-Quran. Malahan masuk Islam karena terpesona dengan sosok seorang laki-laki muslim.
Dan rasanya titik ini menarik untuk dikaji, penulis novel memang ingin menggambarkan hubungan yang harmonis antara muslim dan kristen, di mana pada hakikatnya keduanya memang sangat dekat. Bahkan wanita kristen memang halal dinikahi oleh laki-laki muslim. Demikian juga dengan sembelihannya.
Dan memang berbeda antara kristen di negeri kita dengan kristen di Mesir. Kristen di Mesir mewakili gereja timur yang berbeda dengan kristen Eropa yang lebih sesat serta bercampur dengan berbagai sinkritisme Eropa yang teramat paganis.
Aneh juga memang, biasanya LFS meloloskan semua materi film yang melecehkan agama, seperti pornografi, pelecehan seksual, kekerasan sampai lesibianisme dan homoseksual. Tapi giliran ada film yang mengangkat masalah agama Islam, tiba-tiba bisa gagah untuk menghalangi.
Kira-kira ada apa ya dengan lembaga yang satu ini, sehingga bisa kayak Amerika yang punya standar ganda?
Lokasi Mesir
Lepas dari kontroversi apakah film ini Islami atau tidak Islami, tapi sebagai orang yang pernah ke Mesir dan bahkan lahir di Mesir, film ini menurut hemat kami kurang bisa menampilkan setting kejadian yang sebagian besar di Mesir.
Ketika baca novelnya, suasana Mesir, orang-orang, kebudayaan dan kebiasaan mereka sangat kental. Wajar, karena Habiburrahman kuliah di sana beberapa tahun.
Tapi ketika divisualisasikan, mulai dari yang bikin film, yang main, bahkan para team kreatifnya, mungkin malah belum pernah tinggal di Mesir. Jadi kalau kesan ‘bukan Mesir’ nya terlalu menonjol, sejak awal memang sudah bisa ditebak. India dan Mesir kan tetap berbeda, biar bagaimana pun juga.
Ketika dahulu produksi film itu belum memutuskan siapa yang jadi sutradara, mas Chaerul Umam pernah bilang bahwa beliau sempat ditawarkan untuk menggarapnya. Kami katakan kepada beliau, “Mas, kalau memang jadi membuat film itu, mbok sampeyan ‘nyantri’ dulu di Mesir barang tiga bulan, biar bisa tahu persis bagaimana khas kehidupan di sana.”
Dan permintaan itu sudah dijadikan syarat oleh penulis novelnya, agar lokasi syuting harus di Mesir betulan. Namun sayangnya, sutradara film itu, Hanung, katanya’diperas’ oleh PH di Mesir, sehingga cita-cita mengangkat suasana kota Cairo dalam film ini jadi gatot alias gagal total.
Walhasil, dari sudut pandang ini, film itu kurang mengangkat ke-Mesiran-nya, Tapi apa itu penting buat penonton di negeri ini?
Wallahu a’lam bishsawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc


Responses

  1. Masih Bingung Maksudnya apa

  2. Betul mas Achmad, kebetulan ada temen yang sudah punya CD-nya (nggak tahu bajakan atau tidak). Sempet nonton, ternyata jauh sekali kualitasnya antara novel dan film. Kalau bisa dibilang, di film itu nggak ada sama sekali ruhnya.

    Tetapi, sikap kritis yang diberikan mudah-mudahan bukan untuk mematikan kreativitas, tetapi justru sebagai sarana untuk menjadi lebih baik lagi.

    LAK NGGIH LERES THO MAS…???

  3. kalo filmnya sendiri saya belum nonton secara utuh, kemarin sempat nonton sekilas (kurang lebih 15 menit di awal) memang jauh dari yang digambarkan di novelnya. Sepengetahuan saya memang susah bikin film yang diangkat dari novel kemudian hasilnya mirip dengan novelnya apalagi kalo novel yang religi, tantangan bisnis dan nilai dakwahnya saling bertolak belakang. walaupun begitu saya tetap acungi jempol buat mas hanung yang sudah berusaha membuat film religi semoga lebih baik lagi untuk ke depannya…..

  4. wah saya juga bingung ma tu film

  5. Banyak film yang mengadaptasi sebuah novel, yang bahasa penyampaiannya berbeda pula , ini yang seharusnya dipahami dulu .
    namanya manusia , kalo filmnya sama kayak novelnya di bilang nggak ada nilai lebih , kalo lebih indah filmnya dibilang terlalu dibuat buat , nggak realistis , dll .
    film ya film …novel ya novel …berbeda lahhh .

  6. 🙂 begitulah kita, manusia …
    salam kenal

  7. Saya yakin novelnya jauh lebih bagus. Menurut saya, film ini ramai diperbincangkan dan banyak ditonton lebih karena kepopuleran novelnya.

  8. kalau gw udah dua kali nonton film ayat – ayat cinta
    menurut gw acungan jempol yang ngga terhingga buat semua yang terlibat dalam film tersebut dech,,,masalah mesir, novel, india dll itu ngga penting menurut gw namun menurut gw yang paling penting adalah sampai ngga nya apa yang ingin disampaikan ke penonton n pembaca trus ada reaksi dari pecinta film tersebut,,,,

  9. pasti yang buat tulisan ini ngga ada kerjaan
    yang uda bagus untuk dicerna dan dikonsumsi masyarakat di bahas yang ngga penting nya
    tapi kalau yang penting dan harus dibahas ngga mau ditulis
    heran saya…..satu contoh dech buat yang nulis tulisan ini, film fitna tuch yang penting n bagus untuk di komentari, ngga tau tujuan, target, pasar n tujuan???
    nah kan ini enak untuk di bahas karena ngga ada nilai plus e..malah mau ngancurin dunia dengan apa yang dibuat wilders dengan film yang dibuatnya itu
    satu pesan nich buat yang nulis, bahas apa yang perlu dibahas, ungkap apa yang perlu diungkap…biar yang ngebaca juga bertambah pengetahuannya…

  10. terimakasih buat mas rony…
    ini sekedar klarifikasi saja :
    1. saya kutip tulisan ini sebelum munculnya film fitna (belum dipublish oleh wilders secara terbuka)
    2. sengaja saya tidak menurunkan tulisan tentang film fitna karena film tersebut sudah jelas salah, jadi tidak perlu dibahas lagi. Memasang tulisan ttg film tersebut apalagi sampai mensertakan cuplikan filmnya adalah samadengan ikut menyebarkan film tersebut, dan itulah yang diharapkan wilders
    terimakasih

  11. ada banyak adegan yang gue gak ngerti di film ini….tapi ada satu yang jadi masalah besar…kok si fahri ini mempunyai sifat yang lebih mengarah ke sifat orang kristen yah…yang menghargai setiap orang dan tidak membedahkan atau merendahkan agama orang lain

  12. Mas Darius, kenapa si fahri begitu, jawabnya karena si fahri adalah muslim

    Novel atau Film AAC tsb, ada dampak yg baik dan dampak buruknya krn dalam Novel/Film tsb berisi dan mengkisahkan 2 keyakinan agama yg berbeda yg pada akhirnya disatukan menjadi 1 keyakinan agama pilihan.
    Menurut saya itu berbahaya, kecuali Novel/Film tersebut hanya untuk kalangan terbatas, tidak di publish

    rgds,
    Yudis.

  13. ya itu sih mudah saja apakah anda seorang pembaca al Quran yang setia atau anda seorang yang modern yang lebih mengedepankan hukum demokrasi serta pandangan orang zaman sekarang dan hati kecl kitalah yang tahu jawabannya

  14. atas dasar apa anda berani mengatakan bahwa kristen eropa itu sesat ??? orang bodoh seperti anda seharusnya banyak belajar tentang kristen eropa, baru anda bisa mengatakan sesat…bukankah yang sesat itu orang2 yang mentransfer kebudayaan kafir arab abad ke 7 menjadi sebuah agama ????

  15. ya.ya, pintar juga mas Uzman Abib ini, hanya saja kurang paham. gini mas kedua-duanya pada prinsipnya sama-sama sesat, perbedaanya yang mentrasfer bapaknya sesat sedangkan pengikutnya ia sesat juga. gitu lo. paham kan, dasarnya Al-qur’an Al-maidah 5 : 3.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: