Oleh: Arifin | 12 September, 2008

Tak Perlu Ajari Kami Berpuasa…..


Seperti biasa sebelum pulang kantor, aktivitas rutin adalah mematikan komputer saya. Sebelum saya shutdown komputer, saya coba cek inbox e-mail saya barangkali ada yang masuk atau mungkin ada informasi yang urgen untuk dikerjakan esok hari. Ada beberapa e-mail masuk, salah satu yang menarik perhatian saya adalah kiriman artikel dari teman kerja. Saya merasa tertarik karena judulnya terkesan agak “sombong”, namun kesan itu berbalik 180 derajat setelah saya baca isinya. Untuk teman-teman dan saudaraku sekalian berikut saya bagi isi artikel tersebut……

Berpuasa Hari ke tiga di bulan ramadhan saya berkesempatan menumpang becak menuju rumah ibu. Sore itu, tak biasanya udara begitu segar, angin lembut menerpa wajah dan rambutku. Namun kenikmatan itu tak berlangsung lama, keheninganku terusik dengan suara kunyahan dari belakang, “Abang becak…?” Ya, kudapati ia tengah lahapnya menyuap potongan terakhir pisanggoreng di tangannya. Sementara tangan satunya tetap memegang kemudi. “Heeh, puasa-puasa begini seenaknya saja dia makan …,” gumamku.

Rasa penasaranku semakin menjadi ketika ia mengambil satu lagi pisang goreng dari kantong plastik yang disangkutkan di dekat kemudi becaknya, dan … untuk kedua kalinya saya menelan ludah menyaksikan pemandangan yang bisa dianggap tidak sopan dilakukan pada saat kebanyakan orang tengah berpuasa.

“mmm …, Abang muslim bukan? tanyaku ragu-ragu. “Ya dik, saya muslim ..” jawabnya terengah sambil terus mengayuh. “Tapi kenapa abang tidak puasa? abang tahu kan ini bulan ramadhan.Sebagai muslim seharusnya abang berpuasa. Kalau pun abang tidak berpuasa, setidaknya hormatilah orang yang berpuasa. Jadi abang jangan seenaknya saja makan di depan banyak orang
yang berpuasa ..” deras aliran kata keluar dari mulutku layaknya orang berceramah.

Tukang becak yang kutaksir berusia di atas empat puluh tahun itu menghentikan kunyahannya dan membiarkan sebagian pisang goreng itu masih menyumpal mulutnya. Sesaat kemudian ia berusaha menelannya sambil memperhatikan wajah garangku yang sejak tadi menghadap ke arahnya.

“Dua hari pertama puasa kemarin abang sakit dan tidak bisa narik becak. Jujur saja dik, abang memang tidak puasa hari ini karena pisang goreng ini makanan pertama abang sejak tiga hari ini.” Tanpa memberikan kesempatanku untuk memotongnya, “Tak perlu ajari abang berpuasa, orang-orang seperti kami sudah tak asing lagi dengan puasa,” jelas bapak tukang becak itu. “Maksud bapak?” mataku menerawang menunggu kalimat berikutnya. “Dua hari pertama puasa, orang-orang berpuasa dengan sahur dan berbuka. Kami berpuasa tanpa sahur dan tanpa berbuka. Kebanyakan orang seperti adik berpuasa hanya sejak subuh hingga maghrib,sedangkan kami kadang harus
tetap berpuasa hingga keesokan harinya …”

“Jadi …,” belum sempat kuteruskan kalimatku, “Orang-orang berpuasa hanya di bulan ramadhan, padahal kami terus berpuasa tanpa peduli bulan ramadhan atau bukan …”

“Abang sejak siang tadi bingung dik mau makan dua potong pisang goreng ini, malu rasanya tidak berpuasa. Bukannya abang tidak menghormati orang yang berpuasa, tapi…” kalimatnya terhenti seiring dengan tibanya saya di tempat tujuan.

Sungguh. Saya jadi menyesal telah menceramahinya tadi. Tidak semestinya saya bersikap demikian kepadanya. Seharusnya saya bisa melihat lebih ke dalam, betapa ia pun harus menanggung malu untuk makan di saat orang-orang berpuasa demi mengganjal perut laparnya.Karena jika perutnya tak terganjal mungkin roda becak ini pun takkan berputar ..Ah, kini seharusnya saya yang harus merasa malu dengan puasa saya sendiri? Bukankah salah satu hikmah puasa adalah kepedulian? Tapi kenapa orang-orang yang dekat dengan saya nampaknya luput dari perhatian dan kepedulian saya?


Responses

  1. Subhanallah…
    kisah tersebut benar2 memberikan pesan moral yang sangat luar biasa.
    mudah2 dibumi Allah ini semakin banyak orang yang bersedekah sehingga tidak ada lagi orang2 seperti mereika.

    makasih pak atas balasannya Insya Allah saya coba tanya2 ke kaka kelas yang sudah bekerja.

  2. SUBHANALLAH JARANG ADA TUKANG BECAK SEPERTI DIA N SEORang pemuda seperti dia

  3. Pa minta izin muat artikelnya di blog saya..
    Kisahnya mudah2an tambah banyak yang baca.

  4. silahkan aja, semoga bermanfaat…

  5. wow hwbat sekali anda mulai kehilangan sikap skeptis yang sekarang mulai marak…

    ektika orang fakir ditanya oleh Allah mengapa engkau melalaikan perintahku

    ya Allah aku adalah fakir jadi aku tidak bisa menjalankan perintahMU karena keadaan(kefakiranku)
    maka dipanggilah saksi dari orang Fakir yaitu Ayub as dan Allah bertanya apakah Cobaan yang KUberikan padanya sebanding dengan mu. dan diseretlah orang itu ke neraka kasihan sekali ya

    maka jangan dibiarkan saja tidak puasa ya tidak puasa ! dan melanggar perintah jadi dimana amar maruf nahi munkar kalau masih melihat dalam sudut pandang itu

    Mohon komentar dan jawaban mas

  6. cerpennya bagus banget

  7. asw.
    afwan maz…
    ane copy cerpenx y…ane mau nambahahin naskah yg ada, ane mw nerbitin buku, g jauh2 kok, paling cm sekitar boreneo aja, ane mw bljr tulis ,menulis, biar bz da’wah bil qalam, bz kan maz? nama pengerangx insya Allah ttp ane sertakan kok,,,
    jzk.

  8. silahkan aja….

  9. astaghfirullah…berarti selama romadhon ini apa yg kudapati???haruskah aku bisa menjadi pribadi yg lebih baik…nyatanya aku belum peka dg sekitarkoe..Allah ampuni aku…:(

  10. bagus benget ceritanya.

    klo biasanya tukang b-cak pada sengaja gak puasa,yang ini malah susah buat cari makan.

  11. buat yang tidak tercantum namanya?
    bukan hilangnya sikap skptis itu, namun filosofinya bukan berarti kita membiarkan orang miskin tidak berpuasa, tapi coba kita bersama-sama mendalami makna cerpennya, dari perpektif yang lain.
    jangan2 kita ada andil besar menciptakan iklim tersebut, yang menyebabkan orang fakir tidak berpuasa, na’uzubillah.

  12. Luar biasa, ini bisa membantu agar kita berfikir positif saat melihat orang2 yang tidak berpuasa di bulan romadhon.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: