Oleh: Arifin | 23 September, 2008

Pertarungan Terakhir Sang Pendekar Nomor Wahid


Ada artikel yang sangat bagus, semoga dapat menggugah hati dan jiwa kita yang lebih sering diselimuti oleh kesombongan akan kelebihan dan keunggulan diri kita sendiri. Padahal kalo disadari sesungguhnya tidak ada manusia yang sempurna di dunia yang fana ini. Artikel ini saya peroleh dari sebuah milis tentang HRD, selamat membaca semoga bermanfaat…

Kita tentu masih ingat tentang ilmu padi. Semakin berisi, semakin
merunduk. Semakin seseorang bertambah ilmunya, semakinlah dia
menyadari betapa dia mesti lebih banyak menundukkan kepalanya.
Sehingga matanya tidak tertuju keatas untuk mendongak. Melainkan
melihat kebawah kearah hati. Mungkin itu pula sebabnya kita mengenal
istilah `rendah hati’. Tentu, rendah hati itu tidak sama dengan
rendah diri. Sebab, rendah diri membawa kita kepada sikap inferior.
Sedangkan sifat rendah hati menjadikan kita orang yang yakin kepada
kemampuan diri tanpa harus membusungkan dada. Atau sekedar merasa
diri lebih hebat dari orang lain. Kita kemudian berkata; “Apa
salahnya orang hebat seperti gue membangga-banggakan diri?” Apalagi
jika kehebatan dan kesuksesan kita ini, dihasilkan dari `jerih payah
sendiri’. Tidak salah. Namun, padi tidaklah bersikap demikian.

Dulu. Ketika keunggulan manusia diukur oleh kemampuannya memainkan
pedang. Orang-orang hebat saling berlomba untuk menjadi pendekar
nomor wahid. Sehingga, mereka berlatih tanpa henti dengan tujuan
utama; mengalahkan pemegang gelar `pendekar nomor wahid’ yang ada.
Dan merebut gelar itu. Mereka tidak keberatan jika harus bertarung
hingga mati.

Pada suatu ketika, kesaktian sang pendekar nomor wahid sudah mencapai
tingkatan yang paling tinggi. Sehingga, tidak ada lagi orang yang
berani menantangnya. Lama-lama, dia merasa bosan sendiri. Tak ada
lagi pertarungan. Tak ada lagi kemenangan. Dan akhirnya, tidak ada
lagi nilai dari gelar yang selama ini dibangga-banggakannya. Lalu,
hati kecilnya berbisik; “Benarkah aku ini seorang pendekar nomor
wahid?” Mengingat tak ada lagi yang berani menantangnya, seharusnya
tak seorangpun meragukannya. Tetapi, hati kecilnya kembali
berbisik; “Bagaimana seandainya dibelahan dunia lain ada orang yang
lebih sakti. Apakah aku layak menyandang gelar ini?”

Kegelisahan itu membawanya kepada pengembaraan yang teramat panjang.
Dia melintasi bukit. Menyeberang lautan. Menjelajah padang pasir yang
gersang. Semuanya hanya untuk mendatangi orang-orang sakti dan
mengalahkannya satu demi satu. Akhirnya, sampailah dia disebuah
perguruan terakhir untuk ditaklukan. Jika dia berhasil mengalahkan
orang paling sakti diperguruan itu, maka dia berhak menyandang gelar
pendekar nomor wahid secara mutlak.

“Siapakah orang paling sakti diperguruan ini?” hardiknya, sesaat
setelah dia mendobrak pintu gerbang. Dengan sekali tendang.

“Disini tidak ada orang yang seperti itu, Tuan” jawab orang-orang
itu.
“Perguruan macam apa ini?” sergahnya. “Masa, tidak ada orang yang
paling sakti disini!” sang pendekar nomor wahid kembali
menghardik. “Memangnya apa yang kalian pelajari selama ini dengan
pedang, tombak, dan toya itu.?”

“Disini,” jawab para murid. “Kami belajar tentang kerendahan hati,”
katanya dengan serempak.

Sang pendekar nomor wahid terlihat gusar dengan omong kosong itu.
Tidak ada perguruan yang mengajarkan kesia-siaan semacam itu.
Kesaktian. Kehebatan. Dan kekuatanlah yang seharusnya diajarkan.
Karena, hanya dengan cara itu kemuliaan seseorang ditentukan. Orang-
orang saktilah yang kedudukannya tinggi. Orang-orang hebatlah, yang
pantas dihargai. Orang-orang kuatlah yang layak ditakuti dan
dihormati. “Antarkan aku kepada guru kalian,” pintanya.

Orang-orang diperguruan itu saling pandang. Lalu berkata; “Tuan sudah
berada dihadapan guru kami,”.

Sang pendekar kebingungan; “Apa maksud kalian?” katanya.

“Disini,” jawab para murid. “Kami menjadi guru untuk orang lain.”
Mereka diam sejenak. “Sekaligus menjadi murid bagi mereka.” Lanjutnya
serempak.

Sekarang sang pendekar mulai mengerti bahwa diperguruan itu, setiap
orang diperlakukan sebagai guru. Karena setiap orang ditempat itu
mengajari orang lain tentang apa saja yang diketahuinya. Para ahli
pedang mengajarkan pedang. Para ahli panah, mengajari cara memanah.
Para ahli tombak, membuka rahasia tentang permaian tombak.

Sang pendekar nomor wahid itu juga mengerti. Bahwa diperguruan itu
setiap orang menempatkan dirinya sendiri sebagai murid. Sehingga
tidak peduli kesaktian dirinya setinggi apa; mereka bersedia untuk
belajar dari orang lain tentang sesuatu yang tidak diketahuinya. Para
ahli pedang belajar bagaimana melempar tombak. Para jago toya belajar
tentang cara memegang busur panah. Jadi, siapakah gerangan yang
pantas menyandang gelar sebagai `orang yang paling sakti’ itu?

Sang pendekar nomor wahid tertegun. Dia menatap satu persatu wajah
demi wajah yang ada dihadapannya. Menanyakan nama-nama mereka. Dan
mengingat-ingat apa yang dikenang orang tentang nama-nama itu. Betapa
terkejutnya dia, ketika menyadari bahwa mereka adalah nama-nama yang
sangat harum mewangi didunia kependekaran. Merekalah legenda-legenda
kesaktian. Namun, betapa terharu kalbunya ketika mengetahui
bahwa; “bahkan orang-orang sekualitas merekapun tidak saling belomba
untuk memperebutkan gelar terhormat itu.” Oh, inikah rupanya yang
diajarkan oleh keredahan hati. Mereka merunduk. Ketika isi dan
kualitas dirinya semakin meninggi. Mereka tambah merendah. Disaat
pencapaian mereka menanjak dan mengangkasa. Seperti sang padi.
Semakin merunduk. Ketika butir bulirnya semakin berisi.

Catatan Kaki:
Tidaklah penting siapa guru, dan siapa murid. Karena kenyataanya;
tidak ada manusia yang sempurna.


Responses

  1. artikel yang menarik…..saya pernah membaca buku Donald Trump, disana diceritakan bahwa untuk seorang juara harus siap untuk mendapatkan tantangan dari orang-orang yang ingin menjadi juara…..seperti contoh dalam artikel ini seseorang akan mengejar seorang juara hanya untuk kepuasan…..hanya untuk kepuasan….saya ulangi HANYA UNTUK KEPUASAN….wuiiiih berat beneer musti siap bertarung disaat sakit sekalipun musti tetap tegak untuk bertarung………beruntung orang yang mempelajari ilmu padi selama dia tidak menjadi loser……..saya sepakat dengan pepatah yang menghimbau untuk melakukan pekerjaan yang kita cintai atau mencintai apa yang kita kerjakan…..karena hanya dengan cara itulah kita akan dapat menjadi juara dan senantiasa siap untuk menghadapi tantangan yang akan selalu datang disetiap kondisi kita sap atau tidak…..sebaik-baiknya cinta adalah cinta kepada Tuhan yang telah menciptakan kita….begitulah yang di contohkan para nabi

  2. Halo,selamat siang aku dari Timor Leste,setelah saya baca kesang anda saya cukup menyadari bahwa ternyata benar-2 orang yang hebat haruslah demikian semakin banyak ilmu semakin menunduk orangnya aku berpendapat denganmu,tapi aku orang yang tidak punya ilmu maka aku mohon kepada kakak tolonglah aku biar aku punya ilmu.Demikian dan terima kasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: