Oleh: Arifin | 10 Oktober, 2008

Ternyata, Ikhlas Itu Memiliki Saudara Kembar


dari milis tetangga

Kita sering mendengar kata `ikhlas’ diucapkan orang. Misalnya, sang
dermawan berkata; “Saya menyerahkan sumbangan ini dengan ihklas”.
Anehnya, dia mengharapkan sang penerima derma untuk mencoblos tanda
gambar dalam pemilihan ketua RT minggu depan. Dia merasa kesal ketika
ternyata hasil perhitungan suara lebih sedikit dibandingkan dengan
jumlah orang yang menerima derma darinya. Kita memang gemar membawa-
bawa kata ikhlas ketika melakukan sesuatu untuk orang lain. Tapi,
hati kecil kita begitu mudahnya menggugat hanya karena orang yang
kita tolong itu sama sekali tidak mengucapkan terimakasih. Dan diam-
diam kita mencap orang itu sebagai `orang yang tidak tahu
terimakasih’. Sebongkah kedongkolan ditambah dengan perasaan tidak
dihormati cukup menjadikan kita kapok untuk menolongnya lagi
dikemudian hari.

Beberapa waktu yang lalu, ada kejadian aneh didaerah kami. Jalan
menuju ke pemukiman kami sudah pada berlubang. Ketika saya melintas
pagi itu, lubang-lubang itu masih bercokol disitu. Tetapi, disore
hari saat saya pulang; jalan itu sudah berubah menjadi mulus. Dimalam
harinya, salah satu tokoh masyarakat kami mengaku menangis
menyaksikan kejadian itu. Dia menangis karena ada orang yang tanpa
ketahuan identitasnya telah memperbaiki jalan umum itu. Padahal, para
pengurus RT/RW yang saling bertetangga sudah sejak lama berembuk
mengenai perbaikan jalan, tanpa keputusan yang berarti. Kerumitan
masalahnya ada pada ketidaksepakatan mengenai berapa uang yang harus
disumbangkan oleh setiap rumah. Apakah para pensiunan harus membayar
sejumlah yang sama? Apakah tidak sebaiknya orang yang mempunyai mobil
lebih dari satu membayar iuran berlipat ganda? Dan seribu
satu `apakah’ lainnya. Tapi, hari itu; jalan itu mulus hanya dalam
beberapa jam saja. Semetara itu, tak seorangpun tahu
siapa `dermawannya’.

Pak tokoh masyarakat itu menangis karena disadarkan tentang betapa
dirinya belum memiliki keikhlasan seperti orang itu. Dan pada malam
itu, kami yang tengah berkumpul diforum itu diingatkan juga bahwa;
betapa keikhlasan itu merupakan rahasia antara seseorang dengan
Tuhannya. Karena, tidak ada yang mengetahui apakah kita sungguh-
sungguh ikhlas atau sekedar berpura-pura ikhlas; kecuali diri kita
sendiri dan Sang Maha Mengetahui isi hati manusia. Seperti halnya
kita tidak bisa membohongi hati sendiri, kita tidak bisa
menyembunyikan sesuatu pun dihadapan Dia. Mulut kita bisa
mengatakan `saya ikhlas’. Tapi, jika sesungguhnya kita tidak benar-
benar ikhlas, maka hati kita dan Dia; tahu segalanya.

Ketika kita sungguh-sungguh ikhlas, maka mulut tidak lagi tertarik
untuk mengatakannya. Mendingan mesam-mesem saja. Jika ikhlas, kita
tidak lagi pusing apakah seseorang berterimakasih atau tidak. Jika
ikhlas, tidak penting lagi apakah nama kita diumumkan atau tidak.
Jika ikhlas, yang kita harapkan adalah penerimaan Tuhan atas apa yang
kita lakukan, bukan penilaian manusia. Dan jika demikian, mengapa
orang lain harus tahu apakah kita ini ikhlas atau tidak?

Namun, kadang-kadang kita menganggap bahwa ikhlas itu berarti tidak
mengharapkan imbalan apapun. Meskipun pada kenyataannya kita ikhlas
bekerja sehari-hari hanya jika digaji. Kalau kita tidak digaji, mana
bisa ikhlas bekerja seperti ini? Persis seperti jawaban yang
disampaikan oleh seorang murid ketika Sang Guru bertanya;”Menurut
pendapatmu, ikhlas itu apa?” Kata si Murid; “Ikhlas berarti kita
melakukan sesuatu tanpa mengharapkan imbalan atas apa yang kita
lakukan.”

“Seperti apa misalnya?” lanjut Sang Guru.
“Maaf, guru.” jawab si Murid.”Seperti ketika Guru buang hajat,”
lanjutnya. “Setelah semua urusan Guru di toilet selesai, Guru tidak
pernah ingin lagi melihat kedalamnya. Guru langsung membilasnya. Dan
guru tidak ingin mengingat-ingatnya.”

“Oh, begitu ya?” kata Sang Guru sambil manggut-manggut. Si Murid yang
merasa dirinya telah memberikan jawaban sempurna berbangga
hati. “Kalau begitu,” lanjut Sang Guru. “Didunia ini tidak akan ada
satupun manusia yang benar-benar ikhlas.” Sekarang sang Murid
terperanjat.

Seperti mengerti kegundahan dihati muridnya, Sang Guru
melanjutkan. “Menurut pendapatku, ikhlas itu berarti menerima hukum
Tuhan apa adanya. Dengan kata lain, bersedia menerima apapun yang
digariskan Tuhan untuk mengatur alam semesta ini.” Agak geli
mendengar nasihat Sang Guru, si Murid berkata; “Guru, itu adalah arti
kata taát. Bukan ikhlas.”

“Benar sekali,” kata Sang Guru. “Karena, keikhlasan itu saudara
kembar dari ketaatan.” Seperti Wiro Sableng murid Sinto Gendheng,
sang Murid garuk-garuk kepala ketika Sang Guru berujar; “Orang-orang
yang taát, secara tulus ikhlas menerima hukum Tuhan apapun adanya
itu.” Lalu Sang Guru menjelaskan bahwa tidak termasuk taát orang-
orang yang menolak keputusan Tuhan. Misalnya, Tuhan sudah memutuskan
bahwa `setiap’ perbuatan ada imbalannya. Perbuatan buruk imbalannya
keburukan juga. Itu yang kemudian kita sebut sebagai dosa. Sedangkan
perbuatan baik imbalannya kebaikan juga. Yang biasa kita sebut
sebagai pahala. Tidak ada perbuatan manusia yang luput dari
pengamatan Sang Maha Melihat. Dia mencatat dengan seksama, dan
menghisabkan perhitungan sesuai dengan baik atau buruk perbuatannya.
Itu adalah hukum yang dibuat oleh Tuhan. Dan, seorang hamba yang
ikhlas pasti mentaáti hukum itu. Sehingga, dia sungguh takut berbuat
keburukan karena imbalannya yang berupa keburukan pula itu.
Sebaliknya dia begitu bersemangat dalam berbuat kebajikan, karena dia
sungguh merindukan kebaikan dari sisi Tuhannya.

“Guru,” kata si Murid. “Bukankah lebih baik jika kita tidak
mengharapkan imbalan dari Tuhan?” Sang Guru menjawab:”Itu betul,”
katanya. “Jika, kamu benar-benar tidak mengharapkan imbalan dari
Tuhanmu.” lanjutnya. “Tapi, jika tidak, maka Tuhan tetap tahu apa
yang terucap dihatimu.” Setelah itu, Sang Guru mengatakan bahwa Tuhan
itu sangat senang jika hamba-hambanya yang baik menggantungkan beribu
harapan kepadaNya. Itulah mengapa Dia menyebut dirinya sendiri
sebagai Sang Tempat Menggantungkan Harapan. Seorang hamba yang yakin
dan takut saat berbuat keburukan, namun penuh harap dengan banyak-
banyak berbuat kebajikan disebut sebagai hamba yang tawazun. Artinya,
seimbang. Dia tidak berat sebelah. Dia tidak hanya yakin bahwa Tuhan
akan membalas keburukan dengan keburukan. Melainkan juga yakin bahwa
kebaikan akan berbalas kebaikan disisiNya. Dan sungguh, katanya;
Tuhan sangat menyukai orang-orang yang seperti itu. Maukah kita
membuat Tuhan suka?

 

Catatan Kaki:
Kita, tidak pernah bisa terbebas dari hukum alam barang sedetikpun.
Jadi, menyerah saja kepadanya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: