Oleh: Arifin | 16 April, 2009

Jangan Merasa Bisa Tapi Harus Bisa Merasa


Jangan Merasa Bisa

Artinya kurang lebih : jadi manusia tidak perlu sombong, merasa serba bisa, sok pinter, menyepelekan orang lain, tidak menghargai usaha orang lain, “gampangke masalah”,seolah-olah dirinya paling sempurna, paling benar, tidak pernah salah dan masih banyak lagi persamaan kata lainnya. mari kita urai pada konteks yang lebih jelas.

Beberapa waktu lalu kita disuguhi dengan tontonan para elite partai dan jurkam yang sedang mengadakan pasar dadakan dengan dagangan utamanya “OBRAL JANJI”. Kalau kita cermati sebagian besar para jurkam menyampaikan hal yang muluk seolah-olah bisa merubah, menyelesaikan masalah negera ini ataupun mensejahterakan masyarakat dalam waktu sekejab. Menganggap hal itu sangat enteng untuk dilakukan. Janji sembako murah, BBM murah, pendidikan gratis, kesehatan gratis dan berbagai macam bantuan semuanya diobral tanpa memberikan argumentasi yang rasional bagaimana cara mencapai hal itu. Merasa bahwa dirinya adalah manusia super yang akan mensejahterakan rakyat ini begitu terpilih.

Dalam scope yang lebih sempit misalnya dalam perusahaan tempat kerja kita. Ketika seseorang menyepelekan hasil kerja rekannya maupun bawahannya maka pada saat itulah orang tersebut pada posisi orang yang dimaksud merasa bisa. Dia akan memandang bahwa orang lain selalu salah, selalu kurang, tidak perform, tidak sempurna, tidak memperhatikan prosedur, tidak memperhatikan sisi humanis dalam mengambil keputusan. Sementara itu di sisi lain dia akan merasa bahwa kalau pekerjaan atau tanggungjawab itu diberikan kepada dia maka segalanya akan beres dan semua pihak akan merasa puas. Apabila ada pencapaian atau keberhasilan dalam timnya maka yang ada dalam alam bawah sadarnya akan mengatakan bahwa : “itu karena atas inisiatif gua”, “kalau tidak ada gua, kagak bakal bisa berhasil”,”ini semua sudah gua setting sebelumnya, yang lain tidak jalanin aja” dan masih banyak lagi kalimat yang mungkin bisa mewakili itu. Kalau timnya mengalami kegagalan maka yang muncul adalah “kan sudah gua bilang jangan lakukan hal itu…, “coba kalau mau ikut saran yang gua berikan pasti tidak akan begini”, “entar lain kali gua deh yang jadi leader-nya pasti berhasil”. dan lain sebagainya

Harus Bisa Merasa

Sebaliknya yang harus dilakukan adalah berempati terhadap orang lain yang ada disekeliling kita, siapapun yang kita hadapi. Misalnya BOS kita, teman kerja, bawahan, patner bisnis, tetangga, teman, saudara atau bahkan keluarga kita (anak, istri, suami maupun orangtua kita). Ada kala kita harus mengambil sudut pandang dari sisi orang lain agar dapat mengerti dan memahami kondisi masing-masing yang pada akhirnya akan memunculkan rasa saling membutuhkan. Sehingga kita bisa menjalani hidup secara elegan, memanusiakan manusia.

Kita perlu memahami apa yang diharapkan bawahan dari atasan. Seorang bawahan secara umum akan merasa nyaman bekerja apabila atasannya memberikan perhatian, atasan membimbingnya ketika menghadapi masalah, atasan memberikan apresiasi atas hasil kerja, atasan memberikan ruang untuk berpendapat dan ketika melakukan kesalahan atasan menegurkan dengan secara manusiawi bukan dengan dimaki ataupun dipermalukan di depan umum. Sebaliknya kita juga perlu memahami apa yang diharapkan atasan dari bawahannya. Seorang atasan secara umum akan merasa senang apabila; mendapatkan data laporan yang akurat, progress sesuai dengan target, permasalahan bisa diatasi oleh anak buah, production plan dapat terlaksana, profit/schedule tercapai. Apabila kedua belah pihak saling pengertian dan saling menghargai posisi masing-masing, maka alangkah indah dan nikmatnya suasana kantor kita.

Demikian pula posisi kita di keluarga, seorang suami akan memiliki harapan terhadap istrinya, pun demikian seorang istri memiliki harapan pada suaminya. Anak kita juga memiliki harapan keinginan terhadap orang tuanya sebaliknya kita sebagai orang tua mengharapkan anak-anak kita akan seperti ini, itu, begini dan begitu. Apabila kita mau menggunakan sudut pandang itu maka kita akan bisa lebih bijaksana dalam menyikapi segala hal yang berkaitan dengan orang lain, siapapun dan apapun posisinya.

Semoga bermanfaat…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: