Oleh: Arifin | 12 Juni, 2009

BIJAK MENYIKAPI FACE BOOK DIKANTOR


by FDA

Demam FB di tanah air sudah melanda berbagai kalangan masyarakat, mulai dari anak-anak yang senang dengan gadget terbaru, ibu-ibu yang akrab dengan dunia online, pebisnis, selebriti, politikus dan pekerja kantoran.

Menyikapi penggunaan FB di kantor, majalah HC mengadakan jajak pendapat kepada para praktisi HR untuk mengetahui pandangan dan kebijakan dikantornya masing-masing.

Dari jawaban yang masuk, mayoritas responden mengenal FB dengan baik, namun pada pertanyaan selanjutnya, apakah akses FB diperbolehkan atau tidak dikantor, jawabannya terpecah menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama, memperbolehkan akses FB dikantor saat jam kerja. Kelompok ini termasuk beberapa kantor yang memperbolehkan akses FB dengan catatan khusus, yakni hanya pada saat jam istirahat atau usai jam kantor. Atau ada juga yang mengizinkan karyawannya mengakses FB asal dengan gadget pribadi semisal BB, ponsel atau smartphone.

Beberapa pendapat yang memperbolehkan akses FB dikantor memberi alasan FB berguna untuk menjalin atau memperluas network, atau lantaran mereka melihat FB sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan cepat, dengan syarat tidak menambahkan info yang bersifat rahasia atau membahayakan kepentingan profesionalisme atau pribadi. Di sebuah perusahaan mengijinkan para karyawannya ber-FB-ria dengan catatan para karyawan tersebut harus disosialisasikan prinsip-prinsip dasar dan etika internet yang ada.

Kelompok kedua yang tidak memperbolehkan akses FB dikantor beralasan bahwa perusahaannya menilai FB sangat sedikit manfaatnya bagi kelancaran pekerjaan kantor serta dinilai tidak berhubungan dengan profesionalitas. Sementara pengaruhnya pada fasilitas penunjang teknologi informasi (TI) cukup besar. Dari beberapa perusahaan yang termasuk dalam kelompok kedua ini sepaham bahwa larangan untuk mengakses FB lebih dilihat dari sisi efektivitas kerja dimana waktu bekerja yang sangat terbatas dan menuntut konsentrasi penuh.

Di artikel ini juga memuat komentar dari Yodhia Antariksa yang aktif menulis tentang strategi manajemen yang juga menyetujui pembatasan akses FB di kantor. Yodhia menyarankan sebaiknya perlu ada kebijakan yang membatasi waktu akses internet dan FB, Yodhia menilai aktivitas di FB bisa mengganggu jam kerja dan produktivitas karyawan karena mayoritas isi FB masih berfokus pada perbincangan ringan atau mirip obrolan saja.

Yodhia juga menyebut kehadiran FB mendorong hancurnya peradaban membaca. Media semacam ini selalu memaksa kita untuk always on & always connected, dan diam-diam merampas waktu berharga kita untuk melakukan perenungan, kontemplasi atau proses membaca buku yang membutuhkan kedalaman dan keheningan. Padahal, Negara yang peradaban pengetahuannya lebih maju justru menjadikan buku (bacaan) sebagai penanda status sosial. “you are what you read”.

Dikutip dari majalah Human Capital (HC) no 063 edisi Juni 2009


Responses

  1. yah….siapa yang cederung gandrung dengan menyia-nyiakan waktu dengan bergaung dengan jemaah fesbukiyah, amal ibadahnya sia-sia….http://www.pakode.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: