Oleh: Arifin | 4 Desember, 2009

UN… oh… UN


Ujian Nasional (UN) memang fenomenal, merupakan salah satu hajatan nasional yang menyedot perhatian semua lapisan masyarakat dan juga menyedot anggaran biaya yang tidak sedikit. Beberapa waktu yang lalu dilaksanakan sidang atas gugatan pelaksanaan UN kepada pemerinath selaku penyelenggara dan juga sekaligus penanggung jawab. Dan hasilnya gugatan dikabulkan oleh majelis hakim yang diantaranya adalah permohonan ditiadakannya UN sebagai penentu kelulusan siswa.

Berbicara mengenai UN memang seperti makan buah simalakama (buahnya kayak gimana saya juga belum tahu), antara perlu dan tidak perlu, antara penting atau tidak penting atau bahkan untung atau rugi, mungkin tidak akan ketemu…

Ada beberapa cacatan terkait dengan UN ini :
1. UN sebenarnya ingin difungsikan sebagai alat untuk mengukur tingkat kualitas siswa sehingga pada akhirnya siswa yang bersangkutan dinyatakan layak atau tidak layak untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Berdasarkan akumulasi dari hasil siswa tersebut akan digunakan untuk mengukur kualitas sekolah. Semakin tinggi tingkat kelulusannya semakin berkualitas sekolah itu, demikian kira-kira pemahaman pengukurannya atas kualitas sekolah. Dan celakanya parameter inilah yang kemudian dipegang teguh oleh para kepala sekolah agar sekolahnya dianggap berkualitas.
2. Dengan pelaksanaan UN diharapkan dapat dijadikan sebagai salah satu alat untuk memperbaiki kualitas pembelajaran yang ada di sekolah. Tidak semata mengejar nilai bagus tapi yang juga harus diapresiasi adalah dengan apa dan bagaimana supaya dapat memperoleh nilai/hasil yang baik. Karena sesungguhnya hasil yang baik diperoleh dari proses yang baik pula. Yang menjadikan kita semua miris adalah ada beberapa sekolah (mungkin juga banyak) yang akhirnya mengabaikan proses tetapi mengejar hasil “baik” yang akhirnya hanya kamuflase semata.
3. Sebagai orangtua sudah semestinya memberikan dorongan dan motivasi kepada anaknya untuk berlaku jujur dan mandiri. Ya.. perlu saya ulang JUJUR dan MANDIRI. Karena kejujuran dan kemandirian tersebut merupakan modal yang utama untuk mengarungi masa depan yang lebih baik, saat nanti sang anak sudah dewasa, sudah bekerja, sudah berkeluarga dan juag bekal untuk bermasyarakat. Yang ujian anaknya tapi yang rebut/pusing orang tuanya, hal itulah yang sudah menjadi pemandangan umum menjelang pelaksanaan UN
4. Siswa lebih sering dibuat tegang saat memasuki kelas yang akan mengahadapi UN ( kelas 6 SD, kelas 3 SMP & kelas 3 SMA). Hal ini terkadang bukannya membuat speed belajar menjadi optimal malah sebaliknya, membuat hilang konsentrasi dan disorientasi belajar. Bahwa belajar adalah untuk menghadapi masa depan yang semakin menantang akhirnya hanya focus pada tujuan jangka pendek sekali yaitu menghadapi UN. Tidak jarang akhirnya menggunakan cara yang tidak semestinya, missal : membuat contekan, beli soal dan jawaban dll.

Sudah saatnya mari bersama kita perbaiki pendidikan di negeri tercinta ini. Bahwa UN tidak 100 % salah tetapi fungsi dan mekanisme pelaksanaannya yang harus ditata ulang. Bahkan yang juga tidak kalah penting adalah re-orientasi konsep pendidikan di negeri ini agar mampu mendorong peningkatan kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara, pendidikan yang humanis yang memanusiakan manusia, yang mendorong pengembangan potensi siswa dan juga mampu membuat bangsa ini LEBIH JUJUR dan LEBIH MANDIRI. Semoga serial Cicak VS Buaya, Lingkaran Century atau lainnya tidak terulang di masa yang akan datang.

04 Des 09
Sepanjang perjalanan Pakuan Bogor-Tanjung Barat


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: