Oleh: Arifin | 28 Desember, 2009

Breaking The Limit


Banyak keinginan, banyak harapan dan juga banyak impian yang ingin dicapai oleh seseorang dalam mengarungi kehidupannya. Diantara sekian banyak keinginan dan harapan mungkin belum dapat tercapai. Bahkan terkadang berbagai keinginan dan harapan serta impian tersebut membuat stress. Sebagian dianatara kita merasa seolah-olah dapat mengendalikan setiap kondisi terkait dengan harapan dan impian dan merasa bahwa segalanya dapat dicapai dibawah kendali. Sebagai contoh misalnya :

  • Bila anda adalah seorang karyawan di suatu perusahaan, hampir bisa dipastikan bahwa anda akan memiliki seorang atasan/pimpinan. Seorang karyawan/bawahan biasanya punya keinginan maupun harapan bahwa atasannya adalah seorang yang tidak sekedar mengejar target pekerjaan tetapi juga peduli dan perhatian terhadap kondisi bawahan. Ingin punya atasan yang lebih manusiawi, yang religius dan mungkin juga yang suka humor, itu semua keinginan yang masih wajar. Tetapi apabila harapan dan keinginan tersebut tidak terpenuhi bagaimana..?? Ternyata atasan anda adalah seorang yang diktator, pelit dan egois jangankan punya selera humor tersenyum saja susah. Bagaimana anda menyikapinya?? Apakah anda dapat merubah atasan anda menjadi seperti yang anda inginkan ?
  • Bila anda tinggal di suatu kompleks perumahan, hal yang juga pasti adalah anda tentu punya tetangga. Wajar juga bila anda menginginkan semua tetangga adalah tetangga yang ramah, murah senyum, suka menolong dan masih banyak keinginan yang lainnya. Tetapi apabila yang terjadi adalah kondisi tidak demikian, ternyata tidak semua tetangga anda seperti yang diinginkan. Ada yang jutek, susah tersenyum, atau mungkin karena saking perhatiannya sampai hal-hal yang menjadi privasi anda juga tidak luput dari perhatiannya. So, harus bagaimanakah anda, sekali lagi apakah anda bisa merubah kondisi semua tetangga anda sesuai dengan keinginan anda?

Ada satu hal yang mungkin dapat membantu meringankan beban pikiran anda dikarenakan banyak hal, banyak keinginan, banyak impian dan juga banyak kondisi yang tidak bisa kita kendalikan, atau tidak dapat anda rubah sesuai dengan harapan. Paradigma mengenai perubahan juga harus didudukan pada porsi yang tepat. Disesuaikan dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing. Sebagaimana kata pepatah “Maksud hati memeluk gunung apa daya gunung meletus” artinya adalah semua jadi berantakan gara-gara gunungnya meletus dan itu diluar kendali dan kemampuan anda untuk membuat perubahan.

Jadi gimana dong, Bila kita tidak bisa merubah keadaan, maka ubahlah cara kita menghadapinya. Bila anda tidak bisa merubah atasan anda maka ubahlah sikap dan cara interaksi anda terhadap atasan anda, jangan jadi bawahan yang manja. Bila koeadaan tetangga anda sulit untuk dirubah, berarti perbaiki pola komunikasi dan interaksi anda agar lebih nyaman dalam hidup bertetangga. Bila kondisi/keadaan masih bisa diubah maka berjuanglah sekuat tenaga untuk menggapainya, tetapi bila kondisinya sulit untuk diubah maka bersabarlah dan berlapang dada.

Tulisan ini terinspirasi dari bab pendahuluan buku New Quantum Tarbiyah karangan ust. Solikhin abu Izzudin


Responses

  1. lama tak berkunjung… makin mantaps aja… salam sukses selalu… tetap semangat…

    sedj
    http://sedjatee.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: