Oleh: Arifin | 2 Juni, 2010

Yang Mana Anda: si Stuck atau si Unstuck?


Hidup di rantau penuh dengan tantangan. Kebanyakan mitos yang terdengar adalah kemampuan bahasa yang sangat menentukan keberhasilan seseorang. Dengan perkataan lain, apabila kemampuan bahasa seseorang di perantau kurang memadai, maka kemungkinan besar seseorang tidak akan berhasil. Benarkah demikian?

Jawabannya: tidak benar.

Walaupun penting, kemampuan berbahasa dalam bahasa setempat (seperti Bahasa Inggris di Amerika Serikat, Britania Raya dan Australia) tentu akan menunjang keberhasilan dalam membukakan pintu peluang, namun kemampuan mengartikulasikan pikiran dalam bentuk komunikasi yang dapat diterima dalam kultur setempatlah yang sebenarnya jauh lebih penting. Juga sikap kerja (attitude) yang etislah yang sangat menentukan keberhasilan seseorang di tanah rantau.

Selama hampir sepuluh tahun di perantauan, tepatnya di Amerika Serikat, saya telah merasakan sendiri dan melihat dengan mata kepala dan mata hati sendiri bahwa bentuk komunikasi yang paling mengena bukanlah dengan menggunakan grammar dan choices of words yang sempurna, melainkan dengan kemampuan mengekspresikan pikiran dan perasaan dengan cara yang seefisien mungkin dalam bentuk komunikasi verbal dan non-verbal. Ini bisa dilihat dari pendatang-pendatang baru yang kemampuan berbahasanya –walaupun kedengaran cukup lancar di telinga perantauan saya– masih kurang sempurna di telinga penduduk setempat.

Ada beberapa sesama teman seperantauan yang sangat cepat melesat karirnya. Sebaliknya ada pula yang totally stuck di satu titik saja selama bertahun-tahun, bahkan masih sering nebeng pula dengan teman-temannya yang unstuck. Lantas, sebenarnya apa yang membedakan mereka? Bukankah mereka sama-sama dari Indonesia dan (kebanyakan) mempunyai latar belakang kehidupan masa lalu yang mirip pula?

Untuk mempermudah deskripsi saya di bawah, mari kita sebut saja mereka yang cepat melesat karirnya sebagai si "Unstuck" dan mereka yang jalan di tempat si "Stuck."

Si "Unstuck," biasanya mempunyai kemampuan berkomunikasi yang universal (selalu menjaga etika, banyak mendengarkan dan percaya diri tanpa perlu menjatuhkan orang lain) attitude yang berbeda dibandingkan dengan si "Stuck." Bagi si Unstuck, tantangan adalah sumber gairah dan energy yang sangat berharga. Dalam kata lain, dengan kesulitan –termasuk kesulitan dalam berkomunikasi– ia menemukan makna hidup. Dengan demikian, ia membuka

pintu-pintu keberhasilan baginya di masa depan (di tingkat "etheral," dalam bahasa New Age-nya).

Bagi si Stuck, tantangan adalah sesuatu yang ingin dihindarkan setiap saat. Saya ingat betapa ada seorang teman yang selalu mengeluh baik ketika tidak mendapatkan pekerjaan, sedang mencari pekerjaan dan bahkan ketika sudah diterima kerja. Keluhannya walaupun hanya untuk hal-hal kecil saja, namun bagi si Unstuck, ini adalah salah satu bentuk "invitation" bagi kegagalan.

Coba saja bayangkan. Si Stuck ini sering mengeluh betapa "kejam"nya bosnya di tempat kerja, maka ketika suatu hari kehadirannya di tempat kerja sangat diperlukan, ia bilang, "Mereka lagi mau pindahan kantor, mendingan gua tidak masuk kerja saja, supaya mereka tahu rasa kekurangan orang." Wah, dengan mengeluh kepada si Unstuck, sebenarnya si Stuck ini sudah membuka pintu kegagalan.

Maksudnya apa? Well, siapa sebenarnya yang mau mempekerjakan seseorang yang tidak etis (tidak profesional)? Ingatlah bahwa "what you say says a lot about you" (apa yang Anda katakan kepada orang lain sebenarnya mencerminkan siapa Anda).

Kalau saja pihak yang mempekerjakan si Stuck ini sampai mendengar perkataannya, bukankah pintu promosi sudah langsung tertutup baginya? Belum lagi kalau si Unstuck temannya itu mempunyai potensi untuk mempekerjakan si Stuck. Bukankah ini adalah promosi buruk (bad personal branding) bagi si Stuck?

Ada lagi beberapa perbedaan antara si "Stuck" dan si "Unstuck".

Stuck: Senang meminta. Senang menerima yang gratis-gratis tanpa merasa obligated untuk membalas budi.

Unstuck: Senang memberi. Tidak senang menerima barang-barang gratis (ingat there is no free lunch, semuanya mesti dibayar baik sekarang maupun nanti –bukankah lebih baik sekarang?). Kalaupun diberi sesuatu, ia selalu membalas budi baik orang lain dengan segera.

Stuck: Berpikir dengan perasaan dan merasa dengan pikiran. Sering mengalami konflik antara pikiran dan perbuatan,sehingga apa yang dikomunikasikan mempunyai "logical fallacy."

Unstuck: Berpikir dengan pikiran dan merasa dengan perasaan. Paralel dan tidak ada konflik antara pikiran dan perbuatan. Dalam istilah Ilmu Logika, perbuatan-perbuatannya adalah perbuatan yang sahih.

Stuck: Mengikuti tren (misalnya senang mendengarkan pendapat orang lain, menjadi "pengikut" pendapat orang lain).

Unstuck: Menciptakan tren (tidak memperdulikan omongan negatif orang lain, sepanjang apa yang diincar adalah halal dan bisa membantu orang banyak baik secara langsung maupun tidak langsung).

Stuck: Tidak berani menghadapi tantangan baru (lebih baik "stuck" di satu tempat daripada mengubah diri sendiri untuk memenuhi kebutuhan baru yang akan membawanya ke kehidupan yang lebih baik).

Unstuck: Senang menghadapi tantangan baru, bahkan selalu mencari-carinya di setiap kesempatan.

Stuck: Senang memerangi masalah saat itu juga karena merasa egonya tertantang.

Unstuck: Memilih masalah yang harus diperangi (choose your battle) dan mana yang harus dilepaskan karena tidak worth it dari segi spending tenaga dan pikiran.

Stuck: Sering menyalahkan orang lain (blaming) dan mengeluh (whining). Bahkan ada orang selalu mengeluh sehingga ia tidak bisa lagi melihat berkat (blessing) di depan matanya.

Unstuck: Tidak menyalahkan siapa-siapa. What already happened, happened. Yang penting adalah solving the problem, bukan blaming dan whining.

Stuck: Tidak pernah double checking pendapat orang lain. Dalam kata lain, percaya saja kepada gosip secara penuh, tanpa mendengarkan dari pihak lain yang terlibat.

Unstuck: Selalu double checking dan tidak langsung mempercayai gosip atau isyu-isyu yang beredar.

Stuck: Lebih memusatkan kepada kemampuan berbahasa, bukan komunikasi efisien dan kemampuan adaptasi kultural.

Unstuck: Memusatkan kepada kemampuan berkomunikasi efisien dan adaptasi kultural, bukan yang dapat diukur oleh grammar dan mekanisa bahasa.

Stuck: Biasanya tidak berani mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya (ada unsur "merahasiakan" asal-usul dan beberapa hal lainnya yang semestinya bukanlah rahasia).

Unstuck: Terbuka dan transparan dalam bertindak. Berani untuk diaudit oleh siapapun karena kebenaran akan selalu berada di pihaknya.

Oke, sekarang kalau Anda merantau, kira-kira yang mana Anda?

 

oleh Jennie S.

Bev. Jennie S. Bev adalah penulis perantauan yang telah menerbitkan 15 buku dalam bentuk elektronik di Amerika Serikat. Pada tahun 2003, ia dinobatkan sebagai EPPIE Award Finalist for excellence in electronic publishing


Responses

  1. ijin copas mas…thanks…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: